Bila kita teliti lebih jauh, rasa dengki sebenarnya me rupakan penolakan terhadap ketetapan (taqdir) Allah SWT. Kenikmatan yang diperoleh oleh orang lain adalah anugerah Allah SWT. Bila kita berusaha untuk menjauhkan atau menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang itu, berarti kita tidak menerima dengan ketetapan Allah SWT.
Secara psikologis, sikap iri hati ini akan mengganggu ke-jiwaan orang yang melakukannya. Kesedihan dan kekhawatiran akan selalu menghantuinya dan membuat jiwanya resah.
BACA JUGA: Larangan Dengki
Kedengkian itu sendiri banyak ragam dan motifnya. Berikut ini akan diterangkan beberapa macam kedengkian.
1. Rasa dengki yang mendorong seseorang ingin anugerah yang diperoleh orang lain hilang. Untuk merealisasikan keinginannya itu dia melakukan tindakan-tindakan dan ucapan-ucapan yang dilarang agama. Sebagian dari mere-ka ada yang berusaha memindahkan anugerah itu kepada dirinya, ada juga yang target utamanya hanya menghilang-kan anugerah itu dari orang yang dimaksud, dia tidak pe-duli anugerah itu nantinya akan didapat oleh siapa. Yang terakhir ini adalah jenis dengki yang paling jelek.
2. Ada juga orang yang muncul rasa iri di hatinya, namun dia tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap orang yang dia hasadkan tersebut. Diriwayatkan bahwa Imam al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa sikap seperti ini tidak termasuk dosa. Orang yang dicoba dengan rasa iri seperti ini ada dua macam.
a. Orang tersebut tidak mampu menghilangkan rasa iri tersebut dari hatinya, karena rasa itu sering muncul dengan sendirinya, namun dia tetap tidak melakukan tindakan apapun terhadap kawannya itu. Orang yang seperti ini tidak berdosa.
b. Orang tersebut bisa mengendalikan kemunculan rasa iri di hatinya. Sehingga kadang dia memunculkan rasa itu dengan disertai keinginan kuat atas hilangnya anugerah yang diperoleh kawannya. Sikap seperti ini sama dengan sebuah niat atau tekad untuk melakukan maksiat.
BACA JUGA: Rasulullah ﷺ dan Nu’aiman Gemar Bercanda
Ulama berbeda pandangan dalam menyikapi masalah ini. Namun orang seperti ini biasanya tidak mengimplementasikan niatnya tersebut pada kenyata-an dengan melakukan tindakan atau ucapan yang me-rugikan kawannya. Yang ia lakukan hanya berusaha un-tuk mendapatkan anugerah serupa untuk dirinya. Sikap seperti ini sama dengan sikap sekelompok orang yang disinggung dalam Al-Qur’an,
“…Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekaya-an seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesung-guhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. (al-Qashash: 79) []
Sumber: Akhlak Rasul, Menurut Al-Bukhari dan Muslim / Penulis: Abdul Mun’im al-Hisyami / Penerbit: Gema Insani Press / Cetakan Kedelapan, Dzulhijjah 1441 H / Agustus 2019 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

