Home SirahNabi dan Kota Makkah

Nabi dan Kota Makkah

Zikir dan tafakur mengukuhkan Muhammad pada kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta Semesta dan membuka mata batinnya dalam melihat realitas sebuah kaum.

by Abu Umar
0 comments 89 views

Sendiri, Muhammad ibn Abdullah menelusuri jalan menanjak perbukitan Makkah, menapaki bebatuan sambil memba wa bekal yang disiapkan istrinya. Khadijah. Perjalanannya dihangatkan oleh sinar matahari pagi musim panas Rama-dhan, la melintasi tebing-tebing bukit dengan tenang dan te guh. Keteguhan lelaki berusia empat puluh dengan kekuatan yang telah mencapai sempurna.

Makkah tampak semakin menjauh dan mengecil setiap kali Muhammad memandangnya.

Muhammad memandangi Makkah dengan penuh cin ta. Hingga kemudian ia sampai di gua kecil yang hanya bisa menampung dua orang berimpitan. Hatinya tertambat pada gua itu. la merasakan ketenangan berada di dalamnya. Tapi, ia sendiri tidak tahu dari mana sumber ketenangan itu.

Muhammad duduk di sebongkah batu besar sambil me nikmati semilir angin yang berembus dari kejauhan. Semilir angin datang setelah melintasi puncak puncak bukit yang tampak membentang. Membelai dengan lembut wajah Muhammad seolah hendak menyeka bulir-bulit keringar yang tampak serupa mutiara di keningnya. Sementara, alam seperti tenggelam dalam kesunyian dan kerenangan. Dan, Muhammad merasakan dirinya sedemikian syahdu menyatu dengan ketenangannya.

BACA JUGA:  Perjalanan Rasulullah dan Abu Bakar Meninggalkan Mekkah

Muhammad memandangi Ka’bah yang kukuh di tengah Makkah. Dari tempat ia duduk, Ka’bah tampak kecil di mata, namun terasa agung di jiwa. Muhammad dapat merasakan, keagungan Ka’bah telah memancarkan kedamaian dan ketenangan pada Tanah Haram Makkah, negeri Ibrahim.

Muhammad telah terbiasa menyendiri di Gua Hira. Di sana, ia bertasbih dan berzikir kepada Allah serta bertafakur, me-renungi semesta. la melakukan itu selama beberapa malam. Dan, akan pulang jika bekal makanan telah habis untuk kemudian menjalani kehidupan seperti biasa.

Saat berzikir, Muhammad terkadang didatangi malaikat pengembara semesta yang menyuguhkan sesuatu menyerupai makanan. Jika malaikat itu berlalu, Muhammad akan kembali larut dalam zikir. Mahaagung Tuhan dan Maha Pencip-ta.

Zikir dan tafakur mengukuhkan Muhammad pada kesadaran akan kebesaran Sang Pencipta Semesta dan membuka mata batinnya dalam melihat realitas sebuah kaum.

Kaum itu, mereka adalah orang-orang yang mengotori Masjidil Haram dengan berhala-berhala yang mereka muliakan, menyembelih binatang sebagai kurban untuk benda-benda mati tersebut, menghamba kepada batu yang sama sekali tak mampu berbuat apa-apa. Mereka mengundi nasib di hadapan berhala-berhala itu.

Mereka memiliki tiga berhala besar: Lata, Uzza, dan Manat. Mereka meletakkan berhala bernama Hubal yang terbuat dari batu akık di dalam Ka’bah. Jika bagian tangan Hubal patah maka mereka menggantinya dengan emas. Tangan tuhan bisa patah? Dan masih banyak lagi jenis berhala. Berhala-berhala ukuran kecil berserakan di sekitar Masjidil Haram dan dirawat oleh para dukun. Dan, para dukun itu yang akan menyambut orang-orang yang datang, lalu menipu mereka.

Ya Rabbi! Di negeri yang aman ini, di sekitar Ka’bah ini, hanya berisi manusia-manusia bengis yang menindas manusia-manusia lemah, manusia-manusia sombong yang memperbudak manusia-manusia malang, manusia-manusia yang memandang para budak sebagai binatang, bahkan lebih rendah daripada itu. Hak-hak para budak itu tidak pernah diperhatikan.

Ya Rabbi! Di negeri ini, di sekitar Ka’bah ini, begitu banyak dosa: orang-orang mendapatkan kehidupan dari hasil riba dan jual-beli yang aneh, di sana berlaku hukum iumba: yang kuat memakan yang lemah, bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup, kaum perempuan direndahkan…. Orang-orang meminum minuman keras secara berlebihan hingga menyebabkan mereka melakukan dosa-dosa lain, mereka berzina secara terang-terangan, mereka berjudi.

Ya Rabbi! Tidak ada dosa yang tak mereka kerjakan.

Ya Rabbi! Engkau telah mengutus Ibrahim untuk menyebarkan ajaran yang lurus, membangun rumah-Mu di sini, menegakkan agama-Mu di sini. Tapi, kini, orang-orang telah melupakan semua itu dan membuat tuhan sendiri.

BACA JUGA:  Makanan Rasulullah saat Terjadi Penaklukan Kota Mekkah

Ya Rabbi! Engkau Mahabesar. Sampai kapan ini akan berlangsung?

Muhammad teringat akan harinya-harinya yang menyenangkan dı Makkah. Ia memiliki orang-orang yang ia kasihı dan sayangi. Ada paman yang sangat penyayang, Abu Thalib, serta anaknya, Ali. Juga ada paman-paman yang lain: Hamzah “Si Pemburu Singa”, Abbas, dan Abu Lahab. Ada sang istri, Khadijah, perempuan agung yang penuh cinta dan te-lah memberi empat buah hati. Di sisi Khadijah, Muhammad merasakan kasih sayang yang tak putus-putus. Muhammad juga memiliki Zaid, seorang pelayan yang kemudian dijadi-kan anak angkat. Dalam keluarga ini, Muhammad merasa-kan ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Muhammad juga teringat dengan orang-orang yang baik hati. Ada Abu Bakar, Utsman, Thalhah, Zubair, Sa’d, Said, Abu Ubaidah, Abdurrahman ibn Auf, al-Arqam ibn Abu al-Arqam, dan lain-lain. Mereka adalah kalangan orangtua dan pemuda yang merasakan ketidaknyamanan berdampingan dengan orang-orang sesat. []

Sumber: Fi Shuhbati al-Rasûl / Penulis: Nizar Abazhah / Penerbit: Dar al-Fikr, Syria, 2008 – Penerbit Zaman / Cetakan 1, 2014

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119