Home » Mengingkari Azab Kubur dan Syubhat-Syubhatnya: Penjelasan serta Bantahan

Mengingkari Azab Kubur dan Syubhat-Syubhatnya: Penjelasan serta Bantahan

by haura nurbani
0 comments 40 views

Keimanan kepada kehidupan setelah kematian merupakan bagian penting dari akidah Islam. Di antara perkara yang wajib diyakini berdasarkan dalil adalah adanya nikmat dan azab kubur. Setelah seseorang meninggal dunia, ia memasuki alam barzakh dan mengalami keadaan yang telah Allah tetapkan baginya hingga datangnya hari kebangkitan.

Namun, sebagian kelompok pernah mengingkari adanya azab kubur dengan mengemukakan sejumlah dalil dari Al-Qur’an dan pertimbangan akal. Mereka memahami beberapa ayat secara berbeda dan menjadikannya alasan untuk menolak kehidupan serta pengalaman manusia di alam kubur. Berikut penjelasan mengenai syubhat-syubhat tersebut dan bantahannya sebagaimana dipaparkan dalam naskah sumber.

BACA JUGA: Mengingkari Azab Kubur: Mengenal Syubhat dan Dalil yang Mereka Kemukakan

Kelompok yang Mengingkari Azab Kubur

Dalam kitab Mukhtashar al-Ma‘arij disebutkan bahwa azab kubur diingkari oleh Bisyr al-Muraisi dan orang-orang yang sependapat dengannya, termasuk sebagian pengikut Mu‘tazilah.

Mereka mengemukakan dua ayat Al-Qur’an sebagai dalil, serta satu alasan berdasarkan pertimbangan akal.

Dalil pertama adalah firman Allah Ta‘ala:

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَى

“Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia.” (QS. ad-Dukhan: 56)

Dalil kedua adalah firman Allah Ta‘ala:

وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ

“Dan kamu sekali-kali tidak sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar.” (QS. Fathir: 22)

Adapun alasan berdasarkan akal, mereka memberikan contoh seseorang yang disalib. Menurut mereka, jasad orang tersebut tetap berada di tempatnya hingga hancur, tetapi tidak terlihat adanya kehidupan kembali, pertanyaan, ataupun siksa terhadapnya.

Berikut penjelasan dan bantahan terhadap ketiga syubhat tersebut.

Bantahan terhadap Dalil Pertama: Penghuni Surga Tidak Mengalami Kematian Lagi

Mereka memahami firman Allah dalam QS. ad-Dukhan ayat 56 sebagai petunjuk bahwa manusia hanya mengalami kematian satu kali. Menurut mereka, jika manusia mengalami kehidupan di alam kubur, berarti ia akan mengalami kematian lebih dari sekali.

Pemahaman tersebut tidak tepat. Ayat ini sedang menjelaskan kenikmatan yang diperoleh penghuni surga. Mereka tidak akan mengalami kematian lagi setelah kematian yang pernah mereka rasakan di dunia.

Frasa “kecuali kematian yang pertama” merupakan penegasan bahwa kematian yang telah mereka alami di dunia adalah satu-satunya kematian yang mereka rasakan. Setelah masuk surga, mereka tidak akan mengalami kematian lagi.

Adapun keadaan manusia di alam kubur setelah mendapatkan pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir tidak berarti mereka mengalami kematian kedua. Kehidupan alam barzakh memiliki keadaan tersendiri yang berbeda dari kehidupan dunia.

Dengan demikian, ayat tersebut sama sekali tidak menafikan adanya kehidupan alam kubur, pertanyaan malaikat, ataupun azab dan nikmat kubur.

Bantahan terhadap Dalil Kedua: Makna Pendengaran Orang yang Telah Meninggal

Mereka juga menggunakan firman Allah dalam QS. Fathir ayat 22 untuk menolak kemungkinan orang yang telah meninggal mendengar pertanyaan dan merasakan azab kubur.

Padahal, ayat tersebut dapat dipahami dengan dua penjelasan.

Pertama, Allah menafikan kemampuan Rasulullah ﷺ untuk membuat orang yang telah meninggal mendengar.

Jika pendengaran dalam ayat tersebut dipahami sebagai pendengaran secara mutlak, yang dinafikan adalah kemampuan Rasulullah ﷺ untuk menjadikan orang mati mendengar dengan kekuasaan beliau sendiri. Hal itu tidak berarti Allah tidak mampu membuat orang yang telah meninggal mendengar.

Allah Mahakuasa untuk memberikan kemampuan mendengar kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Salah satu contohnya adalah peristiwa ketika Rasulullah ﷺ berbicara kepada orang-orang musyrik yang terbunuh dalam Perang Badar dan jasad mereka dimasukkan ke dalam sebuah sumur.

Beliau bertanya kepada mereka apakah mereka telah mendapati kebenaran janji Allah dan Rasul-Nya. Ketika para sahabat mempertanyakan bagaimana beliau berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka mendengar perkataan beliau, tetapi tidak mampu menjawab.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Allah dapat menjadikan orang yang telah meninggal mendengar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, tidak mustahil Allah menjadikan penghuni kubur mendengar pertanyaan malaikat dan mengalami keadaan yang telah ditetapkan bagi mereka.

Kedua, pendengaran yang dinafikan adalah pendengaran yang disertai respons dan penerimaan.

Jika ayat tersebut dipahami bahwa orang yang telah meninggal tidak dapat mendengar dalam pengertian mendengar dengan respons dan penerimaan, maka tidak ada pertentangan dengan keyakinan tentang pertanyaan dan azab kubur.

BACA JUGA: Kematian Orang Kafir

Orang-orang kafir dapat mendengar bacaan Al-Qur’an dan seruan Rasulullah ﷺ, tetapi mereka tidak mau menerima serta merespons kebenaran. Dalam pengertian inilah mereka disamakan dengan orang-orang yang telah meninggal.

Dengan demikian, ayat tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk menafikan seluruh bentuk pendengaran orang yang telah meninggal.

Penutup

Pembahasan mengenai azab kubur mengajarkan bahwa perkara gaib harus dipahami berdasarkan dalil yang benar, bukan semata-mata berdasarkan pengamatan indrawi atau pertimbangan akal manusia. Kehidupan alam barzakh memiliki keadaan yang berbeda dari kehidupan dunia, sehingga tidak semua yang terjadi di dalamnya dapat diketahui melalui pengamatan manusia.

Karena itu, seorang muslim hendaknya berpegang kepada Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ dalam memahami perkara alam kubur. Ketidakmampuan manusia menyaksikan atau memahami sesuatu tidak berarti perkara tersebut tidak ada. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk memberikan kehidupan, pendengaran, nikmat, dan azab kepada hamba-Nya di alam barzakh.[]

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119