Home » Memahami Takdir dan Makna Hadis tentang Penyakit Menular serta Kesialan

Memahami Takdir dan Makna Hadis tentang Penyakit Menular serta Kesialan

by haura nurbani
0 comments 109 views

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak hal yang membuat seorang muslim bertanya tentang takdir, doa, penyakit, dan berbagai keyakinan yang berkembang di masyarakat. Islam mengajarkan agar kita memahami perkara-perkara tersebut berdasarkan tuntunan agama, bukan sekadar dugaan atau kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.

Dua pembahasan berikut menjelaskan hubungan antara doa dan takdir serta makna hadis tentang penyakit menular, nasib sial, dan keyakinan tertentu pada bulan Shafar. Semoga penjelasan ini membantu kita memahami ajaran Islam dengan lebih baik dan semakin menguatkan tawakal kepada Allah.

Doa dan Takdir: Apakah Doa Bisa Menolak Qadha?

Pertanyaan: Apakah doa bisa menolak qadha? Mohon berikanlah fatwa untuk kami, semoga diganjar.

Jawaban: Doa termasuk sebab yang dengannya orang yang berdoa bisa memperoleh manfaat. Pada kenyataannya, apakah doa bisa menolak qadha atau tidak, hal ini memiliki dua sisi.

Contohnya adalah sakit. Kadang-kadang seseorang berdoa kepada Allah agar menyembuhkan penyakitnya, lalu ia sembuh. Dari sini, seandainya ia tidak berdoa, mungkin ia akan tetap sakit, tetapi dengan doa, ia menjadi sembuh.

Hanya saja, kita katakan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa penyakit ini akan sembuh dari orang yang sakit melalui perantara doa. Maka, hal ini telah ditulis.

Dalam hal ini, secara zahir doa bisa menolak qadar, sehingga manusia menyangka bahwa seandainya ia tidak berdoa, ia akan tetap sakit. Akan tetapi, sebenarnya doa tidak bisa menolak qadha dalam pengertian bahwa doa itu sendiri sudah termasuk dalam takdir. Kesembuhan akan terwujud dengan doa ini, dan inilah bagian dari takdir yang telah ditetapkan sejak zaman azali.

Demikianlah, segala sesuatu selalu disertai sebab. Allah telah menjadikan sebab tersebut sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu dan telah menetapkannya sejak zaman azali, sebelum hal itu terjadi.

Sumber: Liqaa’aat al-Baabil Maftuuh, no. 790.

Makna Hadis: Tidak Ada Penyakit Menular, Nasib Sial, Burung Hammah, dan Kesialan Bulan Shafar

Pertanyaan:

Syaikh ditanya tentang sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah (anggapan nasib sial), tidak ada hammah (keyakinan tentang burung tertentu), dan tidak ada kesialan bulan Shafar.” (Muttafaq ‘alaih).

Penafian di atas dari sisi apa? Dan bagaimana mengompromikan hadis di atas dengan hadis: “Larilah dari orang yang berpenyakit lepra sebagaimana kamu lari dari singa!”

Jawaban: Al-‘Adwa adalah perpindahan penyakit dari orang yang sakit kepada orang yang sehat. Hal ini terjadi pada penyakit jasmani dan rohani.

Karena itu, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa teman duduk yang buruk seperti peniup ubupan (alat peniup api), mungkin membakar pakaianmu atau kamu mendapatkan bau yang tidak enak. []

Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119