Home » Pasukan Gajah: Upaya Abrahah Menghancurkan Ka’bah

Pasukan Gajah: Upaya Abrahah Menghancurkan Ka’bah

by Abu Umar
0 comments 23 views

Makkah, di penghujung Februari 571 M. Tepat sekitar 50 hari sebelum Rasulullah ﷺ lahir, ribuan tentara bergerak menuju Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah bin ash-Shabbah al-Habasyi, penguasa Yaman yang berada di bawah kekuasaan an-Najasyi.

Abrahah sangat bernafsu meluluhlantakkan Ka’bah. Mengapa? Karena ia merasa terganggu dengan banyaknya orang yang datang ke Ka’bah.

Saat itu, Abdul Muthalib merupakan pemimpin Makkah. Ia sangat mencintai Ka’bah, sebagaimana ajaran nenek moyangnya, Nabi Ibrahim. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga dan melindungi bangunan suci tersebut. Orang-orang pun berbondong-bondong mendatangi Ka’bah sebagai tempat ibadah, meskipun praktik ibadah mereka telah menyimpang dari ajaran Nabi Ibrahim karena menyembah berhala di sekitar Ka’bah.

Keadaan itu tidak disukai Abrahah. Ia merasa jengkel dan semakin membenci Ka’bah. Untuk mengalihkan perhatian orang-orang, ia membangun sebuah gereja berlapis emas di Kota Shan’a guna menandingi Ka’bah. Namun, hanya sedikit orang yang datang ke gereja tersebut.

BACA JUGA:  Mengundi Nasib di Masa Arab Jahiliyah

Abrahah semakin marah ketika mengetahui bahwa pada suatu malam, seseorang dari Bani Kinanah berhasil memasuki gerejanya secara diam-diam dan melumuri bagian kiblat gereja dengan kotoran. Amarah Abrahah pun memuncak. Ia berniat menghancurkan Ka’bah dengan mengerahkan pasukan bergajah.

Abrahah segera memerintahkan panglimanya menyiapkan sekitar 6.000 prajurit dan sembilan atau tiga belas ekor gajah untuk menyerang Ka’bah. Persiapan perang dilakukan. Seluruh perlengkapan dikeluarkan dan dibawa untuk menghancurkan bangunan suci itu. Setelah semuanya siap, pasukan Abrahah berangkat menuju Makkah.

Abrahah berada di barisan terdepan, memimpin pasukannya dengan penuh kesombongan. Ia mengendarai gajah terbesar yang bernama Mahmud. Tubuh gajah-gajah yang besar membuat bumi seolah-olah bergetar ketika kaki mereka serentak menjejak tanah.

Abrahah menghiasi gajah-gajahnya dengan kain. Ia sangat yakin bahwa dengan sekali serangan, Ka’bah akan hancur oleh pasukan bergajah yang dimilikinya. Iring-iringan pasukan terus mendekati Makkah. Mereka yakin akan mampu meluluhlantakkan Ka’bah hingga berkeping-keping.

Kabar kedatangan pasukan gajah segera terdengar oleh penduduk Makkah. Suasana kota menjadi mencekam. Orang-orang Quraisy melarikan diri ke bukit dan gunung untuk menghindari ancaman yang segera datang. Makkah pun menjadi sunyi, seolah-olah tidak berpenghuni.

Pasukan gajah semakin mendekati Makkah. Ketika tiba di Wadi Muhasir, sebuah wilayah di antara Muzdalifah dan Mina, terjadilah peristiwa yang mengejutkan. Gajah-gajah itu tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Mereka duduk di atas padang pasir yang tandus. Sesekali, belalai mereka dikibas-kibaskan untuk mengusir debu yang diterbangkan angin.

Gajah-gajah tersebut tidak mau berjalan menuju Ka’bah. Setiap diarahkan ke selatan, utara, atau timur, mereka bangkit dan berlari. Namun, ketika diarahkan menuju Ka’bah, mereka kembali duduk dan menolak bergerak. Abrahah dan pasukannya heran. Mereka kebingungan, tidak mengetahui apa yang terjadi pada gajah-gajah itu.

Di tengah kebingungan tersebut, tiba-tiba muncul sekawanan burung yang beterbangan di atas pasukan gajah. Jumlahnya sangat banyak. Abrahah dan pasukannya terkesima, lalu mendongakkan kepala ke langit.

Burung-burung itu digambarkan memiliki bentuk seperti besi berpengait (*khathathif*) dan menyerupai kacang adas (*balsan*). Suara dengungan terdengar keras hingga membuat pasukan Abrahah menutup telinga dengan tangan.

Ketika pasukan Abrahah masih terkejut, burung-burung itu menjatuhkan batu-batu yang membinasakan mereka. Pasukan tersebut kocar-kacir. Mereka berlarian lintang-pukang ke segala arah untuk menyelamatkan diri.

Setiap burung dikisahkan membawa tiga batu: satu di paruh dan dua lainnya di kedua kakinya. Apabila batu itu mengenai seseorang, tubuhnya akan berlubang-lubang, seperti daun yang dimakan ulat.

BACA JUGA:  Tradisi Klenik Bangsa Arab Dahulu

Tidak semua prajurit terkena lemparan batu. Sebagian berhasil melarikan diri. Namun, karena saling berdesakan, banyak di antara mereka terjatuh dan terinjak oleh rekan-rekannya sendiri yang juga berusaha menyelamatkan diri.

Abrahah berhasil melarikan diri. Namun, setibanya di Shan’a, ia menderita penyakit parah. Persendiannya dikisahkan terlepas satu per satu. Keadaannya digambarkan seperti anak burung yang dadanya terbelah hingga jantungnya tampak keluar. Tidak lama kemudian, Abrahah meninggal dunia.

Kabar tentang peristiwa tersebut menyebar dengan cepat hingga terdengar di Romawi, Persia, dan Habasyah. Dunia pun gempar dan banyak orang sulit memercayai kejadian itu. Mereka heran bagaimana Abrahah, seorang penguasa termasyhur dengan pasukan bergajah yang kuat, dapat gagal menghancurkan Ka’bah.

Peristiwa besar itu kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun yang dalam tradisi sejarah Islam dikaitkan dengan kelahiran Rasulullah ﷺ. []

Sumber: The Great Story of Muhammad ﷺ : Referensi Lengkap Hidup Rasulullah ﷺ dari Sebelum Kelahiran hingga Detik-detik Terakhir / Penyusun: Ahmad Hatta, dkk. / Penerbit: Maghfirah Pustaka / Cetakan Keenam, September 2016 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119