Ada satu penyakit hati yang sering tidak terasa, tetapi diam-diam sangat berbahaya: terlalu panjang angan-angan, padahal umur begitu pendek.
Banyak orang hidup seolah-olah masih memiliki waktu yang sangat panjang. Ia menunda taubat, menunda memperbaiki diri, menunda ibadah, menunda berdamai dengan Allah, bahkan menunda menjadi hamba yang sungguh-sungguh. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang tahu: berapa langkah lagi menuju liang kubur.
Sesungguhnya, tidak ada jalan yang benar untuk menghadapi dunia, fitnahnya, gemerlapnya, dan syahwatnya, kecuali dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Adapun dunia, ia hanyalah sarana. Seorang hamba tidak seharusnya mengambil dari dunia ini kecuali apa yang membantunya untuk beribadah kepada Allah dan selamat pada hari Kiamat.
Allah Ta’ala berfirman:
{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا}
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat indah: akhirat menjadi tujuan, dunia menjadi alat.
BACA JUGA: Ketika Usiamu Sudah 40 Tahun
Semakin Bertambah Usia, Semakin Besar Angan-Angan
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ الْمَالِ، وَطُولُ الْأَمَلِ»
“Anak Adam bertambah tua, tetapi dua hal ikut bertambah bersamanya: cinta harta dan panjang angan-angan.”
(HR. Al-Bukhari)
Hadits ini sangat dalam maknanya. Secara logika, ketika umur semakin menua, seharusnya seseorang semakin sadar bahwa ajal semakin dekat. Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya: harapan dunia makin panjang, rencana makin banyak, keinginan makin bertumpuk.
Ia berkata:
“Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih serius beribadah.”
“Nanti kalau anak-anak sudah besar, saya akan fokus ke akhirat.”
“Nanti kalau usaha sudah stabil, saya akan banyak sedekah.”
“Nanti kalau sudah tua, baru saya benar-benar hijrah.”
Padahal, berapa banyak orang yang tidak pernah sampai pada kata “nanti” itu?
Tidak Semua Harapan Akan Pernah Tercapai
Manusia selalu punya daftar keinginan:
rumah yang lebih besar,
tabungan yang lebih banyak,
kendaraan yang lebih bagus,
usaha yang lebih berkembang,
masa depan yang lebih aman.
Namun kenyataannya, tidak ada manusia—baik orang saleh maupun orang jahat—yang mampu mewujudkan seluruh angan-angannya.
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah membuat sebuah gambaran yang sangat menyentuh. Beliau menggambar sebuah kotak, lalu menggambar satu garis lurus di tengah yang keluar dari kotak itu, lalu di sekitar garis tersebut beliau menggambar garis-garis kecil dari samping.
BACA JUGA: Manusia yang Mengejar Dunia
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan:
“Ini adalah manusia. Ini adalah ajalnya yang mengelilinginya. Dan garis yang keluar itu adalah angan-angannya. Adapun garis-garis kecil itu adalah berbagai musibah dan gangguan. Jika ia luput dari yang satu, maka yang lain akan mengenainya.”
(HR. Al-Bukhari)
Betapa jujur gambaran ini.
Manusia punya angan yang melampaui batas ajalnya, sementara hidupnya sendiri dikepung oleh:
sakit,
musibah,
kecelakaan,
kehilangan,
kegagalan,
dan kematian yang datang tiba-tiba.
Ia ingin ini, ingin itu, ingin lebih lama, ingin lebih banyak, ingin lebih mapan. Tetapi ajal tidak menunggu selesainya rencana-rencana itu. []
Sumber:
HR. Al-Bukhari tentang panjang angan-angan dan cinta harta
HR. Al-Bukhari tentang gambaran ajal dan angan-angan
QS. Al-Qashash: 77
Hadits Al-Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه tentang keadaan di alam kubur
Atsar Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه
AR-ISLAMWAY.NET
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

