Di Madinah, terdapat sebuah kebun. Itu adalah kebun yang paling luas di seluruh kota Madinah.
Air yang mengalir di dalamya adalah air yang nikmat rasanya. Pepohonannya rindang. Pohon kurmanya pun menjulang tinggi.
Sepanjang tahun, kebun tersebut dipagari rapat. Sehingga ia terhindarkan dari binantang yang mengganggu atau anak-anak yang kadang bermain bebas.
Tibalah waktu memanen. Buah-buahan di dalamnya siap dipetik dan dimakan. Pagar yang rapat itupun dihancurkan.
Diundanglah semua orang untuk memasuki kebun itu. Siapapun boleh datang. Memetik hasil kebun, menikmatinya, dan membawa sebagiannya pulang ke rumah. Sesuka hati.
Sang pemilik, setiap kali memasuki kebun. Maka ia akan berucap,
وَلَوْلَآ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ ۚاِنْ تَرَنِ اَنَا۠ اَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَّوَلَدًاۚ
“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.” (Q.S. Al Kahfi: 39)
Firman Allah Ta’ala itu terus ia ulang-ulang.
Ia adalah Urwah bin Az Zubair. Pemilik kebun yang terkenal sangat dermawan, pemaaf, dan murah hati. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

