Home MuhasabahJangan Jadi Orang yang Terlalu Banyak Tertawa

Jangan Jadi Orang yang Terlalu Banyak Tertawa

Jika kita benar-benar mengetahui bagaimana dahsyatnya kehidupan akhirat, apakah kita masih akan menghabiskan begitu banyak waktu untuk tertawa dan melupakan persiapan menuju kepada-Nya?

by Abu Umar
0 comments 7 views

Tertawa adalah sesuatu yang manusiawi. Rasulullah ﷺ pun tersenyum dan tertawa pada kesempatan tertentu. Islam tidak mengajarkan seorang Muslim untuk menjadi manusia yang selalu murung dan kehilangan kegembiraan.

Namun, Islam juga mengajarkan agar kita tidak larut dalam tawa dan kesenangan dunia hingga melupakan akhirat.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا

“Wahai umat Muhammad, demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” (HR. Bukhari no. 6631 dan Muslim no. 901)

Apa yang dimaksud dengan hadis ini?

BACA JUGA: Jangan Mencela Makanan

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya tentang perkara-perkara akhirat yang sering kita lupakan: kematian, hari kebangkitan, hisab, serta beratnya kehidupan setelah dunia.

Kita sering tertawa karena mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Kita bersuka cita ketika memperoleh harta, jabatan, kesenangan, atau berbagai kenikmatan dunia.

Namun, sudahkah kita mengingat apa yang akan terjadi setelah semua itu berakhir?

Suatu hari, kita akan meninggalkan rumah. Meninggalkan pekerjaan. Meninggalkan harta. Meninggalkan orang-orang yang kita cintai.

Kita akan datang menghadap Allah seorang diri.

Karena itu, jangan sampai banyaknya tawa membuat hati menjadi lalai.

Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh bercanda atau tertawa. Rasulullah ﷺ juga tersenyum, bercanda dengan para sahabat, dan menunjukkan kegembiraan. Yang perlu dihindari adalah tertawa secara berlebihan hingga membuat hati keras dan lalai dari mengingat Allah.

Seorang mukmin seharusnya mampu menempatkan kegembiraan pada tempatnya.

BACA JUGA: Jangan Jadi Pendengki

Ia tertawa, tetapi tetap mengingat Allah.

Ia bergembira, tetapi tidak melupakan kematian.

Ia menikmati dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan akhir.

Saudaraku, mungkin hari ini kita begitu mudah tertawa karena berbagai hal yang sebenarnya tidak penting.

Mari sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:

Jika kita benar-benar mengetahui bagaimana dahsyatnya kehidupan akhirat, apakah kita masih akan menghabiskan begitu banyak waktu untuk tertawa dan melupakan persiapan menuju kepada-Nya?

Bukan tawa yang harus kita hilangkan, tetapi kelalaian yang harus kita tinggalkan. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119