Di zaman manusia berlomba-lomba mencari popularitas, pengakuan, dan pujian, Islam justru mengajarkan keikhlasan dan ketawadhuan. Banyak orang ingin dikenal, dipuji, dan diperbincangkan manusia. Padahal, kemuliaan sejati bukanlah ketika nama sering disebut manusia, tetapi ketika seorang hamba dikenal oleh Allah sebagai hamba yang bertakwa dan ikhlas. Karena itu, para ulama salaf sangat takut terhadap ketenaran, sebab ketenaran sering menjadi pintu masuk riya’, ujub, dan rusaknya hati.
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.”
HR. Muslim bin al-Hajjaj no. 2965.
BACA JUGA: Hina di Bumi, Terkenal di Langit
Hadits ini menunjukkan bahwa di antara hamba yang dicintai Allah adalah orang yang tidak berambisi mencari ketenaran. Ia beramal dengan ikhlas, tidak haus pujian, dan tidak sibuk agar dirinya diperhatikan manusia.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
هُوَ الَّذِي لَا يُظْهِرُ نَفْسَهُ ، وَلَا يَهْتَمُّ أَن يُظهِرَ عِندَ النَّاسِ أَوْ يُشَارُ إِلَيهِ بِالبَنَانِ أَوْ يَتَحَدَّثُ النَّاسُ عَنْهُ
“Yaitu orang yang tidak menampakkan dirinya, tidak berambisi untuk tampil di depan manusia, atau untuk ditunjuk oleh orang-orang atau diperbincangkan oleh orang-orang.”
Syarah Riyadhus Shalihin, hlm. 629.
Demikian pula Ahmad bin Hanbal pernah berkata,
“Beruntung sekali orang yang Allah buat ia tidak tenar.”
Beliau juga berkata,
“Aku lebih senang jika aku berada di tempat yang tidak ada siapa-siapa.”
Ta’thirul Anfas, hlm. 278.
Semua ini menunjukkan betapa para ulama salaf sangat menjaga hati mereka dari fitnah popularitas. Sebab pujian manusia bisa merusak keikhlasan dan menumbuhkan kesombongan dalam hati.
BACA JUGA: Bahaya Pujian
Rasulullah Muhammad ﷺ juga memperingatkan tentang bahaya pujian yang berlebihan. Beliau bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالتَّمَادُحَ فَإِنَّهُ الذَّبْحُ
“Jauhilah sifat suka dipuji, karena dengan dipuji-puji itu seakan-akan engkau disembelih.”
HR. Ahmad bin Hanbal no. 16460, dishahihkan oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2674.
Karena itu, hendaknya seorang muslim memperbaiki niatnya dalam setiap amal. Jangan menjadikan manusia sebagai tujuan. Cukuplah Allah yang mengetahui amal dan keikhlasan kita. Sebab amal yang tersembunyi namun ikhlas jauh lebih mulia daripada amal yang terkenal namun dipenuhi riya’ dan keinginan dipuji manusia. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

