Home Yaumul HisabJumhal Mizan di Akhirat

Jumhal Mizan di Akhirat

Banyaknya orang yang ditimbang amalnya tidaklah menyulitkan sebab kondisi hari kiamat tidak bisa disamakan dengan kondisi di dunia.

by Abu Umar
0 comments 11 views

Apakah mizan hanya satu, ataukah banyak?

Jika hanya satu, kenapa nash-nash menyebut dalam bentuk jamak? Dan jika jumlahnya banyak, kenapa nash-nash menyebut dalam bentuk tunggal?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah s menjelaskan, timbangan-timbangan dipasang kemudian amalan manusia ditimbang.

Syaikh Ibnu Utsaimin s menjelaskan, yang memasang timbangan-timbangan amal adalah Allah untuk menimbang amalan manusia. nash-nash menyebut timbangan amal dalam bentuk jamak dan tunggal.

Contoh timbangan amal yang disebut dalam bentuk jamak adalah firman Allah:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حسين )

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya: 47)

BACA JUGA:  Tanaman Surga

وَالْوَزْنُ يَوْمَيدِ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَبِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَيْكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم
بِمَا كَانُوا بِشَايَاتِنَا يَظْلِمُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan). maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9)

Sementara nash yang menyebut timbangan amal dalam bentuk tunggal di antara seperti yang disebutkan dalam sabda nabi berikut:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ حَبِيبَتَانِ إِلَى

“Dua kalimat ringan di lisan namun berat di timbangan dan disukai Ar-Rahman; Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil azhim (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung).” (Al-Bukhari, 11/175, Muslim, hadits nomor 2694)

Pertanyaannya, bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an di atas disatukan dengan hadits ini?

Jawaban:

Disebut dalam bentuk jamak berdasarkan amalan yang ditimbang karena banyak jenisnya, dan disebut dalam bentuk tunggal dengan asumsi hanya ada satu timbangan, atau timbangan untuk setiap umat, atau yang dimaksud timbangan dalam sabda nabi “Berat di timbangan” adalah ukuran beratnya.

Secara dzahir-Wallahu a’lam- timbangan amal hanya ada satu, dan disebut dalam bentuk jamak karena mengacu pada amalan yang ditimbang, dalilnya adalah firman Allah: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9)

Ulama berbeda pendapat tentang jumlah timbangan amal, apakah hanya satu ataukah banyak?

Sebagian berpendapat, hanya ada satu timbangan amal, sementara yang lain berpendapat jumlahnya banyak.

BACA JUGA:  

banner

Yaumul Mizan dan Yaumul Hisab

Safarayini menjelaskan, Hasan al-Bashri menyatakan, masing-masing dari setiap mukallaf memiliki satu timbangan tersendiri. Yang lain menyatakan, secara dzahir pada hari kiamat terdapat banyak timbangan amal, bukan hanya satu berdasarkan firman Allah: “Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf: 8-9)

Berdasarkan pendapat ini, tidak menutup kemungkinan amalan hati ada timbangannya tersendiri, amalan raga ada tim-bangannya tersendiri, ucapan lisan ada timbangannya tersendiri, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Athiyah. Hanya saja kebanyakan ahlul ilmi tidak sependapat, memang setiap orang memiliki tim-bangan amal tersendiri, namun timbangannya tetap satu. Yang lain menyatakan, bentuk jamak yang disebutkan dalam ayat di atas adalah karena banyaknya orang yang amalnya ditimbang Pendapat ini bagus.

Ibnu Hajar menguatkan, mizan atau timbangan amal hanya ada satu, tidak lebih atau banyak. Banyaknya orang yang ditimbang amalnya tidaklah menyulitkan sebab kondisi hari kiamat tidak bisa disamakan dengan kondisi di dunia. []

Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Prahara Padang Mahsyar – Ulasan Mendalam tentang Peristiwa Pengumpulan Manusia di Padang Mahsyar, Huru-Hara Kiamat, Hisab, Mizan, Telaga, Shirath, Syafaat, & Fatwa-Fatwa tentang Akhirat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi /Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119