Ayah dan Bunda, kejujuran dan kemuliaan akhlak merupakan sifat yang membuat seseorang dipercaya oleh orang lain. Kedua sifat ini tidak hanya tampak dalam perkataan, tetapi juga terbukti melalui sikap dan tindakan ketika menghadapi persoalan yang sulit.
Salah satu kisah yang menunjukkan keteladanan tersebut adalah peristiwa pembangunan kembali Ka’bah dan perselisihan mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad. Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah dikenal sebagai sosok yang jujur dan tepercaya. Kebijaksanaan beliau dalam menyelesaikan perselisihan itu menjadi pelajaran berharga tentang keadilan, persatuan, dan kemampuan mencari jalan keluar tanpa memperbesar konflik.
BACA JUGA: Khadijah dan Rasulullah ﷺ: Cinta yang Dibangun di Atas Akhlak dan Kemuliaan Hati
Rasulullah ﷺ Dikenal sebagai Al-Amin
Khadijah binti Khuwailid mengetahui kemuliaan akhlak Muhammad ﷺ. Beliau dikenal di tengah masyarakat Quraisy sebagai sosok yang jujur, amanah, dan memiliki kedudukan terhormat. Karena sifat-sifat itulah, beliau mendapat julukan Ash-Shadiqul Amin, yang berarti orang yang benar dan tepercaya.
Kepercayaan masyarakat terhadap beliau tidak hanya terungkap melalui julukan tersebut. Mereka juga bersedia meminta pertimbangan beliau ketika menghadapi persoalan penting yang sulit diselesaikan.
Sifat jujur dan amanah memang menjadi modal besar dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang dapat dipercaya akan lebih mudah diterima pendapatnya karena orang lain mengetahui bahwa ia tidak semata-mata mengejar kepentingan pribadi.
Pembangunan Kembali Ka’bah
Beberapa tahun sebelum Muhammad ﷺ diangkat menjadi nabi dan rasul, kaum Quraisy membangun kembali Ka’bah setelah bangunannya mengalami kerusakan. Dalam proses pembangunan itu, mereka menghadapi keterbatasan dana sehingga bangunan yang didirikan tidak mencakup seluruh batas fondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada Aisyah bahwa kaum Quraisy tidak membangun Ka’bah sesuai seluruh fondasi Nabi Ibrahim.
Aisyah kemudian bertanya mengapa beliau tidak mengembalikan bangunan Ka’bah ke fondasi tersebut. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kaum Quraisy saat itu masih belum lama meninggalkan kekufuran. Beliau khawatir perubahan besar tersebut akan menimbulkan persoalan bagi mereka.
Kisah ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak hanya berarti mengetahui apa yang benar, tetapi juga mempertimbangkan keadaan dan dampak suatu keputusan. Dalam menyampaikan kebenaran, seseorang perlu memperhatikan kesiapan masyarakat agar tujuan yang baik tidak justru menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Perselisihan tentang Hajar Aswad
Ketika pembangunan Ka’bah mencapai bagian tempat Hajar Aswad berada, perselisihan muncul di antara kabilah-kabilah Quraisy. Setiap kabilah merasa memiliki kehormatan dan hak untuk meletakkan batu tersebut pada tempatnya.
Perselisihan itu semakin memanas hingga dikhawatirkan berkembang menjadi pertikaian bersenjata. Masing-masing pihak ingin mempertahankan kehormatannya, sehingga kesepakatan sulit dicapai.
Dalam riwayat sejarah yang dinisbatkan kepada Ibnu Ishaq, para pemimpin Quraisy kemudian bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Mereka sepakat menunjuk orang pertama yang memasuki area masjid melalui pintu tertentu sebagai pihak yang akan memutuskan persoalan tersebut.
Orang yang pertama kali datang ternyata adalah Muhammad ﷺ. Melihat beliau, mereka menyambutnya dengan menyebut beliau sebagai Al-Amin dan menyatakan kesediaan untuk menerima keputusan beliau.
Kepercayaan yang telah dibangun melalui akhlak mulia membuat beliau diterima sebagai penengah oleh pihak-pihak yang sedang berselisih.
Solusi yang Adil dan Menyatukan
Setelah mengetahui persoalan yang terjadi, Rasulullah ﷺ meminta agar sehelai kain dibawa kepada beliau. Beliau kemudian meletakkan Hajar Aswad di tengah kain tersebut dan meminta setiap perwakilan kabilah memegang salah satu ujungnya.
Mereka lalu mengangkat kain itu bersama-sama hingga mendekati tempat Hajar Aswad semula. Setelah itu, Rasulullah ﷺ mengambil batu tersebut dan meletakkannya pada tempatnya.
Dengan cara ini, setiap kabilah memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam proses tersebut. Tidak ada satu kabilah pun yang harus merasa kehilangan seluruh kehormatannya demi kepentingan pihak lain.
Penyelesaian ini memperlihatkan kecerdasan dalam mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama. Alih-alih memenangkan satu pihak dan mempermalukan pihak lainnya, beliau mengubah perselisihan menjadi kesempatan untuk bekerja sama.
Pelajaran tentang Kebijaksanaan dan Persatuan
Ayah dan Bunda, kisah ini mengandung beberapa pelajaran penting bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.
Kejujuran membangun kepercayaan. Reputasi sebagai orang yang jujur dan amanah membuat seseorang lebih mudah dipercaya ketika menghadapi persoalan yang rumit.
Perselisihan perlu diselesaikan dengan bijaksana. Ketika setiap pihak hanya ingin menang sendiri, konflik akan semakin sulit diakhiri. Sikap tenang dan kemampuan memahami kepentingan bersama dapat membuka jalan menuju perdamaian.
Keadilan tidak selalu berarti memenangkan satu pihak. Terkadang, solusi terbaik adalah memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk berkontribusi sehingga keputusan dapat diterima bersama.
Kehormatan hendaknya tidak menjadi alasan untuk bermusuhan. Setiap orang perlu belajar menahan ego dan mengutamakan kebaikan bersama daripada mempertahankan gengsi pribadi.
BACA JUGA: Istri yang Berkah
Menanamkan Akhlak Mulia kepada Anak
Kisah Rasulullah ﷺ dapat menjadi bahan pendidikan yang berharga bagi anak-anak. Ayah dan Bunda dapat mengajarkan bahwa menjadi orang yang dipercaya membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, dan kesediaan memperlakukan orang lain dengan adil.
Ketika anak berselisih dengan saudara atau temannya, bimbinglah ia untuk mendengarkan kedua belah pihak, memahami persoalan, dan mencari penyelesaian yang tidak merugikan siapa pun. Dengan pembiasaan seperti ini, anak belajar bahwa kecerdasan bukan hanya kemampuan menjawab pertanyaan, tetapi juga kemampuan menyelesaikan masalah dengan akhlak yang baik.
Semoga Allah membimbing kita dan anak-anak kita agar meneladani kejujuran, amanah, serta kebijaksanaan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.[]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

