Home MediaJangan Ikut Membesarkan Konten Receh

Jangan Ikut Membesarkan Konten Receh

Konten receh bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi pintu kelalaian, bahkan kerusakan jika terus dibiarkan.

by Abu Umar
0 comments 15 views

Di era media sosial hari ini, satu hal sering luput dari perhatian: setiap tontonan kita adalah kontribusi. Bahkan satu kali klik pun bisa berdampak besar.

Jangan pernah memberikan satu tayangan pun kepada konten yang tidak bermanfaat. Mengapa? Karena meskipun niat orang berbeda-beda—ada yang menonton untuk sekadar tahu, ada yang hanya ingin hiburan, dan ada pula karena penasaran—semuanya tetap dihitung sebagai “view”. Dan ketika angka itu naik, algoritma akan bekerja: konten tersebut akan disebarkan lebih luas kepada orang lain.

Artinya, tanpa sadar, kita ikut membantu menyebarkan hal yang sebenarnya tidak layak untuk ditonton.

📉 Membesarkan yang Tidak Layak

Para ulama terdahulu telah memberikan teladan dalam hal ini. Dikisahkan bahwa seorang ulama besar pernah menolak undangan menghadiri sebuah acara yang mengandung penyimpangan. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab:

“Aku tidak suka memperbanyak jumlah orang-orang yang berbuat keburukan.”

BACA JUGA:  Kini Radio, HP, TV, Bisa Bersuara, Besok Tangan Anda

Sikap ini menunjukkan prinsip penting: jangan menjadi bagian dari keramaian yang menguatkan kebatilan, meskipun hanya dengan kehadiran atau perhatian kecil.

Begitu pula di dunia digital saat ini. Memberi perhatian kepada konten receh, tidak bermutu, atau bahkan merusak, sama saja dengan menambah “kekuatan” mereka di ruang publik.

🔥 Bahaya yang Tidak Disadari

Masalahnya tidak berhenti di situ. Ada bahaya lain yang lebih halus namun lebih dalam: fitnah hati.

Awalnya hanya melihat sekilas. Lalu muncul ketertarikan. Kemudian tersimpan dalam pikiran. Lama-kelamaan, ia bisa memengaruhi sikap dan cara pandang.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Barang siapa yang berada di sekitar wilayah terlarang, maka dikhawatirkan ia akan terjatuh ke dalamnya.”

Seorang ulama menjelaskan bahwa pandangan yang berlebihan bisa:

Menumbuhkan ketertarikan
Menanamkan bayangan dalam hati
Menggerakkan pikiran untuk terus memikirkannya

Dan dari situlah, pintu-pintu keburukan mulai terbuka.

BACA JUGA:  Fitnah di Akhir Zaman

🧭 Sikap yang Seharusnya

Maka sikap terbaik adalah:

Menjaga pandangan dari hal yang tidak bermanfaat
Tidak memberi ruang bagi konten yang merusak
Memilih tontonan yang menambah ilmu dan kebaikan
Menyadari dampak kecil dari setiap klik yang kita lakukan

Karena dunia digital bukan sekadar tempat melihat, tetapi juga tempat kita ikut menentukan apa yang akan tersebar.

🦁 Penutup: Jauhi Seperti Lari dari Singa

Konten receh bukan sekadar hiburan ringan. Ia bisa menjadi pintu kelalaian, bahkan kerusakan jika terus dibiarkan.

Maka berhati-hatilah. Jauhilah hal-hal seperti ini sebagaimana seseorang lari dari singa—tegas, cepat, dan tanpa menoleh kembali.

Karena menjaga diri hari ini, lebih mudah daripada memperbaiki hati yang telah terpengaruh esok hari. []

SUMBER: AR.ISLAMWAY.NET

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

Ikuti kami di Facebook Humayro. Satu tempat untuk pembelajaran tiada henti. Pembelajaran setiap hari. Pembelajaran sepanjang hayat.

Subscribe

Subscribe my Newsletter for new blog posts, tips & new photos. Let's stay updated!

Humayro.com – Belajar Sepanjang Hayat.  Kantor : Jalan Taman Pahlawan Gg. Ikhlas No. 2 RT18/RW 08 Purwakarta 41119