Pertanyaan:
هل الصيام أفضل للمسافر أم الإفطار؟
Apakah berpuasa ataukah berbuka yang lebih utama bagi seorang yang bersafar (melakukan perjalanan jauh)?
Jawaban Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala.
الأفضل فعل ما تيسَّر له: إن كان الأيسر له الصيام فالأفضل الصيام، وإن كان الأيسر له الإفطار فالأفضل الإفطار، وإذا تساوى الأمران فالأفضل الصيام؛ لأنَّ هذا فعل النَّبيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وسُنَّته، وهو أسرع في إبراء الذِّمَّة، وهذا أهون على الإنسان، فإنَّ القضاء يكون ثقيلاً على النفس، ورُبَّما نرجحه أيضًا، لأنَّه يصادف الشَّهر الّذي هو شهر الصيام، إذًا فله ثلاثة أحوال:
١- أن يكون الإفطار أسهل له، فليفطر.
٢- الصيام أسهل، فليصم.
٣- إذا تساوى الأمران، فالأفضل أن يصوم.
“Yang paling utama ialah melakukan apa yang mudah baginya,
Jika lebih mudah baginya berpuasa, maka yang lebih utama adalah berpuasa.
BACA JUGA:
Puasa dan Kesabaran, Apa Hubungannya?
Jika lebih mudah baginya berbuka, maka yang lebih utama adalah berbuka.
Jika kondisinya sama saja baik dengan berpuasa atau tidak, maka yang lebih utama adalah berpuasa.
Karena inilah perbuatan Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan sunnahnya beliau. Karena hal ini mendorongnya untuk lebih segera dalam menunaikan kewajiban dan lebih ringan baginya. Karena kalau ia mengganti puasanya di hari yang lain, terkadang terasa berat bagi jiwa untuk berpuasa, dan berdasarkan ini mungkin pendapat inilah yang kami pilih.
Dan juga karena dirinya sedang berada di dalam bulan puasa. Maka baginya ada tiga pilihan,
Bila berbuka itu lebih mudah baginya, maka ia berbuka. Bila berpuasa itu lebih mudah baginya, maka ia berpuasa. Namun bila kondisinya sama saja antara dua perkara ini, maka yang lebih utama ialah ia tetap berpuasa.”
Sumber: Majmu’ Fatawa Syaikh Al Utsaimin (jilid: 19/hal: 137)
Al-Imam Al-Bukhari (no. 1945) dan Al-Imam Muslim (no. 1122) dalam kitab Shahih keduanya meriwayatkan dari sahabat.
BACA JUGA: Enaknya Puasa Gini, Ngapain Ya?
Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bercerita,
“خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ حَتَّى إنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ وَمَا فِينَا صَائِمٌ إلاَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ”
“Kami pernah pergi safar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan yang udaranya sangat panas, sehingga salah satu dari kami meletakkan tangannya d iatas kepala untuk melindungi dari panasnya terik matahari dan tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abdullah bin Rawahah.”
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berpuasa walaupun sedang dalam perjalanan safar, ketika safar itu tidak memberatkan puasa dan juga tidak memberikan dampak bahaya. []
SUMBER: TELEGRAM ALILMOE
Telegram alilmoe
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/CmhxXFTpO6t98yYERJBNTB
Instagram: https://www.instagram.com/humayro_media/
YouTube: https://www.youtube.com/@humayromedia
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/profile.php?id=61572918724311

